Minggu, 19 Desember 2010

pendekatan dalam manajemen kelas

PENDEKATAN DALAM MANAJEMEN KELAS

Latar belakang
Guru adalah pekerjaan social, akan tetapi guru tidak dapat di samakan dengan seorang tukang, seorang tukang cukup mengikuti petunjuk yang terdapat dalam buku petunjuk. Guru perlu menyadari bahwa pearanannya sebagai manajerial aktifitas yang harus bekerja berdasar pada kerangka acuan pendekatan manajemen kelas.
Manajemen kelas dalam proses pemecahan masalah bukan terletak pada banyaknya macam kepemimpinan dan control, tetapi terletak pada ketrampilan memberikan fasilitas yang berbeda-beda untuk setiap peserta didik. Pemecahan masalah merupakan proses penyelesaian yang beragam, ini tergantung pada sumber permasalahan .
Guru harus memlilki, memahami dan terampil dalam menggunakan bermacam-macam pendekatan dalam manajemen kelas, dalam hal ini guru dituntut untuk terampil memilih bahkan memadukan pendekatan yang di anggapnya meyakinkan untuk menangani kasus manajemen kelas yang tepat dengan masalah di hadapinya.
Kemungkinan dari hasil diagnosis memutuskan menggunakan pendekatan tetapi setelah diterapkan ternyata gagal. Kemudian situasi tersebut dianalisis kembali, akhirnya sampai pada kesimpulan guru harus menerapkan alternative kedua , ketiga atau kombinasi.
Berikut ini adalah uraian tentang macam-macam pendekatan dalam manajemen kelas yang disarikan dari wilford a. weber (1986; 1996); m.entang dan t. rajoni (1983). boleh jadi dari macam-macam pendekatan dalam manajemen kelas itu ada pendekatan yang sudah tidak tepat lagi. oleh karena itu, uraian macam-macam pendekatan ini di maksudkan untuk lebih memahami kekuatan dan kelemahan yang ada pada setiap pendekatan, sehingga guru tidak terjerumus kedalam penerapan yang sudah tepat lagi.
Tujuan:
 Menjelaskan pegertian
Pendekatan: otoriter, intimidasi, permisif, buku masak instuksional, pengubahan perilaku, sosio-emosional, proses kelompok eklektik dan analitik pluralistic dalam manajemen kelas;
 Menyimpulkan kekuatn dan kelemahan masing-masing pendekatan dalam manajemen kelas;
 Menyimpulkan persamaan dan perbedaan manajemen kelas;
 Mengemukakan bentuk-bentuk intimidasi dalam manajemen kelas;
 Menjelaskan lima strategi pendekatan instruksional dalam manajemen kelas;
 Menyimpulkan alasan penerapan pendekatan eklektif atau pendekatan analitik pluralistik dalam manajemen kelas;
 Memahami empat tahap pendekatan analitik pluralistic yang perlu dicermati dalam manajemen kelas;

1. Pendekatan otoriter
Pendekatan otoriter adalah suatu pendekatan pengendalian perilaku peserta didik oleh guru. Tujuan guru yang utama adalah mengendalikan perilaku peserta didk karena gurulah paling mengetahui dan berurusan dengan peserta didik. Tugas ini sering dilakukan guru dengan menciptakan dan menjalankan peraturan dan hukuman.
Pendekatan otoriter janganlah dipandang strategi yang bersifat mengintimidasi. Guru yang mempraktekan pendekatan otoriter tidak memaksakan kepatuhan, merendahkan peserta didik dan tidak bertindak kasar, guru otoriter bertindak untuk kepentingan peserta didik dengan menerapkan disiplin yang tegas.
Pendekatan otoriter menawarkan lima strategi yang diterapkan dalam manajemen kelas:
1) Menciptakan dan menegakkan peraturan
2) Memberikan perintah, pengarahan dan pesan
3) Menggunakan teguran ramah dalam strategi
4) Menggunakan pengendalian dengan mendekati
5) Menggunakan pemisahan dan pengucilan.

a. Menciptakan dan menegakkan peraturan adalah kegiatan guru manggariskan pembatasan-pembatasan dengan memberitahukan kepada peserta didik apa yang diharapkan dan mengapa hal tersebut diperlukan. Dengan demikian, kegiatan menciptakan dan menegakkan peraturan yang ada proses mendefinisikan dengan jelas dan spesifik harapan guru mengajar perilaku peserta didik di kelas. Peraturan merupakan pedoman yang diformalkan yang menggambarkan perilaku yang dibenarkan dan yang tidak dibenarkan. Maksud peraturan itu adalah menuntun dan membatasi perilaku peserta didik. Peraturan yang dirumuskan dengan jelas amatlah perlu peserta didik dapat bekerja sesuai dengan peraturan. Mengetahui/memahami peraturan yang menyatakan apa yang dibenarkan dan apa yang tidak dibenarkansangatlah penting sehingga peserta didik mengetahui yang harus dikerjakan dan mengetahui pelanggaran atas peraturan itu.
b. Memberikan perintah, pengarahan dan pesan adalah strategi cara dalam mengendalikan perilaku peserta didik agar peserta didik dapat melakukan sesuatuyang diinginkan guru, perintah, pengarahan, dan pesan yang disampaikan dan dinyatakan dengan jelas dan mudah dipahami. Ada sesuatu cara yang sesuai dan sempurna dalam mengendalikan perintah peserta didik sepanjang tidak menggunakan paksaan untuk mematuhinya.
c. Menggunakan teguran ramah dalam strategi memanajemeni kelas yang digunakan guru memarahi peserta didik yang berperilaku tidak sesuai, yang melanggar peraturandengan cara lemah lembut. Para penganjur strategi ini merekomendasikan bahwa teguran ramah adalah startegi yang efektif untukj mengembalikan peserta didik dari perilaku menyimpang yang ringan kepada perilaku yang diharapkan. Teguran ramah dapat dilakukan secara verbal maupun non verbal dimaksudkan untuk memberitahukan dan bukan menuduh.
d. Menggunakan pengendalian dengan mendekati adalah tindakan guru bergerak mendekati peserta didik yang dilihatnya berperilaku menyimpang atau cenderung menyimpang. Strategi ini dimaksudkan untuk mencegah berkembangnya situasi yang mengacaukan atau yang mempunyai kemungkinan mengacaukan. Tindakan itu dimaksudkan untuk menghukum atau mengintimidasi. Strategi ini didasarkan pada asumsi bahwa kehadiran guru secara fisik akan cukup berhasil mencegah peserta didik berprilaku menyimpang.
e. Menggunakan pemisahan dan pengucilan (dan juga penskoran, penahanan), adalah strategi guru dalam merespon perilaku menyimpang peserta didik yang tingkat penyimpanganya cukup berat. Strategi tersebut cukup efektif menanggulangi perilaku menyimpang yang kadarnya berat dari peserta didik, dan bahkan strategi ini tidak dianggap sebagai sesuatu yang bersih menghukum.

2. Pendekatan intimidasi
Pendekatan intimiasi adalah pendekatan yang memndang manajemen sebagai proses pengendalian perilaku peserta didik, berbeda dengan pendekatan otoriter yang menekankan perilaku guru yang manusiawi pendekatan intimidasi menekankan pada perilaku guru mengintimidasi. Bentuk-bentuk intimidasi itu seperti hukuman yang kasar, ejekan, hinaan, paksaan, ancaman dan menyalahkan, peranan peserta didik berperilaku sesuai degnan perintah guru.
Pendekatan intimidasi berguna dalam situasi tertentu dengan mengguanl teguran keras. “teguran keras adalah perintah perbal yang keras yang diberi pada situasi trtentu dengan maksuduntuk segera menghentika perilaku sisi yang menyimpang berat. Misal,guru memergoki dua peserta berkelahi, kemudian guru berteriak “berhenti” dengan harapan setelah mendengar suara guru kedua peserta didik itu akan berhenti berkelahi kehadiran guru mebuat mereka takut, takut karena meraka membayangakan akan memperoleh hukuman yang sangat berat. Dengan demikian, pendekatan intimidasi hanya baik untuk menghentikan perbuatan yang salag berat dengan segera. Apabila perbuatan salah itu selesai atau berhenti maka tindak intimidsi tidak akan seproduktif strategi lain.
Kendatipun pendekatan intimidasi telah dipakai secara luas dan aa manfaatnya, terdapat banyak kecaman terhadap pendekatan ini. Penggunaan pendekatan ini hanya bersifat pemecahan masalah secara sementara dan hanya menangani gajala-gejala masalahnya, bukan masalahnya itu sendiri. Kelemahan lain yang timbul dari penerapan pendekatan ini adalah tumbuhnya sikap bermusuhan dan hancurnya hubungan anatara guru dan peserta didik.

3. Pendekatan permisif
Pendekatan permisif adalah pendekatan yang menekanka perlunya memaksimalkan kebebasan siswa. Thema sentral dari pendekatan ini adalah: apa, kapan, dan dimana juga guru hendaknya membiarkan peserta didik bertindak bebas sesuai dengan yang diinginkannya. Peranan guru adalah meningkatkan kebebasan peserta didik, sebab dengan itu akan membantu pertumbuhan secara wajar. Campur tangan guru hendaknya seminimal mungkin, dan berperan sebagai pendorong mengembangkan potensi peserta didik secara penuh.
Pendekatan permisif sedikit penganjurannya. Pendekatan ini kurang menyadari bajhwa sekolah dan kelas adalah system yang memiliki pranata-pranata social. Dalam system social para anggotanya, dalam hal ini guru dan peserta didik menyandang hak dan kewajiban.mereka diharapkan bertindak sesuai dengan hak dan kewajibannya dan ditemani oleh semua pihak. Perbuatan yang bebas tampa batas akan memperkosa dan mengancam hak-hak orang lain.
Banyak penatap yang menyatakan bahwa pendekatan permisif dalam bentuknya yang murni tidak produktif diterapkan dalam situasi atau lingkungan sekolah dan kelas. Namun disarankan agar guru memberikan kesempatan kepada para peserta didik melakukan urusan sendiri apabila hal itu berguna. Urusan itu seperti para peserta didik memperoleh kesemapatan secara psikologis, memikul resiko yang aman, mengatur kegiatan sekilah sesuai cakupannya, mengembangkan kemampuan memimpin diri sendiri, disiplin sendiri, dan tanggung jawab sendiri. Dengan demikian, guru harus dapat menemukan cara untuk memberikan kebabasan sebesar mungkin kepada peserta disatu sisi, disisi lain tetap dapat mengendalikan kebebasan itu dengan penuh tanggung jawab.

4. Pendekatan buku masak
Pendekatan buku masak adalah pendekatan yang berbentuk rekomendasi yang berisi daftar hal-hal yang harus dilakukan atau yang tidak harus dilakukan oleh seorang guru apabila menghadapi berbagai tipe masalah manajemen kelas. Daftar tengtang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan ini biasanya dapat ditemukan dalam artikel. Karena daftar ini sering merupakan resep yang cepat dan mudah, pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan “buku masak”. Berikut ini contoh khas jenis pernyataan yang dapat dijumpai dalam daftar “buku masak”.
a. Selalu menegur siswa secara empat mata,
b. Jangan sekali-kali meninggikan suara pada saat memperingati siswa,
c. Tegas dan bertindak adil sewaktu berurusan dengan siswa,
d. Jangan pandang bulu dalam memberikan penghargaan,
e. Senantiasalah meyakinkan diri lebih dahulu akan kesalahn siswa sebelum menjatuhkan hukuman,
f. Selalulah meyakinkan diri bahwa siswa mengetahui semua peraturan yang ada,
g. Tetaplah konsekuen dalam menegakkan peraturan.

Pendekatan buku masak tidak dijabarkan atas dasar konsep yang jelas, sehingga tidak ditemukan prinsip-prinsip yang memungkinkan guru menerapkan secara umum pada masalah-masalah lain. Pendekatan ini cenderung menumbuhkan sikap reaktif pada diri guru dalam memanajemeni kelas. Dengan kata lain, guru biasanya memberikan reaksi terhadap masalah tertentu dan sering mempergunakan dalam jangka pendek. Kelemahan lain pendekatan buku masak adalah apabila resep tertentu gagal mencapai tujuan, guru tidak dapat memilih alternative lain, karena pendekatan ini bersifat mutlak. Guru yang bekerja dengan kerangka acuan buku masak akan merugikan diri sendiri dan tidak mungkin menjadi manajer kelas yang efektif.

5. Pendekatan intruksional
Pendekatan intruksional adalah pendekatan yang mendasarkan kepada pendirian bahwa pengajaran yang dirancang dan dilaksanakan dengan cermat akan mencegah timbulnya sebagian besar manajerial kelas. Pendekatan ini berpendapat bahwa manajerial yang efektif adalah hasil perencanaan pengajaran yang bermutu.dengan demikian peranan guru adalah merencanakan dengan teliti pelajaran yang baik, kegiatan belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan setiap peserta didik.
Para penganjur pendekatan intruksional dalam manajemen kelas cenderung memandang perilaku instruksional guru mempunyai potensi mencapai dua tujuan utama manajemen kelas. Tujuan itu adalah:
1) Mencegah timbulnya masalah manajerial,
2) Memecahakan masalah manajerial kelas.

Cukup banyak contoh yang membuktikan bahwa kegiatan belajar-mengajar yang direncanakan dan dilaksanakan dengan baik adalah merupakan factor utama dalam pencegahan timbulnya masalah manajemen kelas. Sebaliknya banyak kenyataan yang mendukung pendirian bahwa kegiatan belajar mengajar yang direncanakan dan dilaksanakan dengan tidak baik adalah penyebab utama timbulnya masalah manajemen kelas.
Oleh karena itu, para pengembang pendekatan intruksional menyarankan guru dalam mengembangkan strategi manajemen kelas memperhatikan hal-hal berikut ini:
1) Menyampaikan kurikulum dan pelajaran yang menarik,relevan dan sesuai,
2) Menerapkan kegiatan yang efektif,
3) Menyediakan daftar kegiatan rutin kelas,
4) Memberikan pengarahan yang jelas,
5) Menggunakan dorongan yang bermakna,
6) Memberikan bantuan mengatasi rintangan,
7) Merencanakan perubahan lingkungan,
8) Mengatur kembali struktur situasi.

Menyampaikan kurikulum, pelajaran yang menarik, relevan dan sesuai dengan secara empiris dianggap sebagai penangkal perilaku menyimpang para peserta didik di dalam kelas. Disamping itu penelitian-penelitian menemukan bukti-bukti bahwa kunci keberhasilan manajemen kelas ialah kemampuan guru mempersiapkan dan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Hal itu akan mencegah perhatian yang kurang, kebosanan dan perilaku menyimpang. Guru yang berhasil ialah guru yang menyajikan pelajaran yang disiapkan dengan baik, berlangsung dengan lancar, dan dengan tempo yang baik, tepat dan jelas arahnya, memberikan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan dan minat peserta didik.
Menerapkan kegiatan yang efektif adalah kemampuan guru mengatur arus dan tempo kegiatan kelas oleh banyak orang sehingga mencegah peserta didik melalaikan tugasnya. Kegiatan guru yang meloncat-loncat(mendesak, tergantung, terputus, berubah arah), efektif, dan akan mengundang perilaku peserta didik untuk menyimpang.
Menetapkan kegiatan rutin kelas adalah kegiatan sehari-hari yang perlu dipahami dan dilakukan peserta didik. Informasi kegiatan ini disampaikan guru pada awal pertemuan dengan para pesertas didik kelas. Penjelasan secukupnya mengenai harapan guru yang berkaitan dengan kegiatan guru kelas merupakan langkah yang menentukan efektivitas manajemen kelas dan pengembangkan kelas yang produktif. Proses ini membatasasi kemungkinan timbulnya masalah manajemen kelas seminimal mungkin.
Memberikan pengarahan yang jelas adalah kegiatan mengkomunikasikan harapan-harapan yang diinginkan guru. Instruksi yang jelas, sederhana, ringkas, tepat pada sasaran,sistematis akan membantu efektivitas manajemen kelas,sehingga masalah-masalah menyimpang yang disebabkan oleh pengarahan yang buruk dapat dihindari.
Memberikan dorongan yang bermakna adalah suatu proses dimana guru berusaha menunjukan minat yang sungguh-sungguh terhadap perilaku peserta didik yang menunjukkan tanda-tanda kebosanan dan keresahan. Kegiatannya misalnya, guru dapat mendekati peserta didik,memeriksa pekerjaannya, memberikan penghargaan pada usahanya, dan memberikan saran-saran perbaikan lebih lanjut. Dengan cara ini guru membantu peserta didik meneruskan aktivitasnya dan mencegah timbulnya perilaku menyimpang.
Memberikan bantuan mengatasi rintangan adalah bentuk pertolongan yang diberikan oleh guru untuk membantu peserta didik menghadapi persoalan yang mematahkan semangat, pada saat mereka benar-banar memerlukannya. Proses bantuannya dilaksanakan sebelum situasi berkembang hingga tidak dapat dikuasai. Bantuan mengatasi rintangan ini adalah cara yang sangat bermanfaat untuk mencegah perilaku menggangu.
Merencanakan perubahan lingkungan adalah proses mempersiapkan kelas atau lingkungan menghadapi perubahan-perubahan situasi. Misalnya, peserta didik harus disiapkan atas kemungkinan guru tikdak dapat hadir selama beberapa hari dan akan digantikan oleh guru lain. Perencanaan yang disiapkan sebelumnya akan membantu peserta didik memahami hal itu dan akan berperilaku sesuai yang direncanakan guru. Dengan demikian, timbulnya masalah manajemen kelas dapat dicegah secara dini.
Merencanakan dan mengubah lingkungan kelas adalah proses penciptaan lingkungan yang menyenangkan dan tertib. Kegiatan ini dimaksudkan memaksimalkan produktivitas dan meminimalkan perilaku menyimpang, dan dirancang dengan baik. Merencanakan dan mengubah lingkungan kelas diperlukan untuk mencegah atau mengurangi jenis-jenis perilaku tertentu yang tidak diinginkan.
Mengatur kembali struktur situasi adalah stategi manajerial kelas dalam memulai suatu kegiatan atau mengerjakan tugas dengan cara yang lain atau cara yang berbeda. Mengubah sifat, mengubah pusat perhatian, atau menggunakan cara baru untuk mengerjakan hal-hal lama akan efektif mencegah timbulnya masalah manajemen kelas, khususnya yang bersumber pada perasaan bosan.

6. Pendekatan pengubahan perilaku
Pendekatan pengubahan perilaku didasarkan pada prinsip-prinsip psikologi behaviorisme. Prinsip utama yang mendasari pendekatan ini adalah perilaku merupakan hasil proses belajar. Prinsip ini berlaku baik bagiperilaku yang sesuai maupun perilaku yang menyimpang. Penganjur pendekatan ini berpendapat bahwa seorang peserta didik berperilaku menyimpang adalah disebabkan oleh salah satu dari dua alas an yaitu:
 Peserta didik telah belajar berperilaku yang tidak sesuai
 Peserta didik tidak belajar berperilaku yang sesuai
Pendekatan pengubahan perilaku dibangun atas dasar dua asumsiutama yaitu:
 Empat proses dasar belajar
 Pengaruh kejadian-kejadian dalam lingkungan
Tugas guru adalah menguasai dan menerapkan empat prinsip dasar belajar. Prinsip tersebut adalah, penguatan positif, hukuman, penghentian, dan penguatan negative.
Penguatan positif yakni pemberian penghargaan setelah terjadi suatu perbuatan. Penghargaan menyebabkan perbuatan yang dilakukan itu semakin meningkat. Perbuatan yang dihargai tersebut diperkuat dan diulangi dikemudian hari.
Contoh:
Andre membuat karya tulis yang sangat rapi, kemudian karya tulis itu disderahkan kepada guru(perbuatan, tingkah laku). Guru memuji karya tulis itu dan mengatakan bahwa karya tulia yang rapi (penguatan positif). Dalam karya tulis berikutnya Andre lebih bersungguh-sungguhdan tulisannya lebih rapi (frekuensi perbuatan yang dilakukan lebih meningkat).
Hukuman adalah pemberian pengalaman atau rangsangan yang tidak disukai atau tidak diinginkan sesudah terjadinya suatu perbuatan. Dengan hukuman menyebabkan suatu perbuatan yang dikenai hukuman frekuensinya berkurang dan cenderung tidak dilanjutkan.
Contoh:
Angga membuat dan menyerahkan makalah yang tulisannya tidak rapi kepada gurunya (perbuatan peserta didik ). Guru menegur Angga karena dia tidak bekerja rapi. Guru menyuruh agar Angga menulis kembali makalah itu (hukuman). Dalam makalah berikutnya tulisan Angga bretambah baik (frekuensi

Penghentian adalah menahan suatu penghargaan yang diharapkan (menahan penguatan positif). Yang dalam kejadian sebelumnya perbuatan seperti itu diberi penghargaan. Penghentian menyebakkan menurunnyafrekuensi perbuatan yang sebelumnya dihargai.
Contoh:
Rezki yang pekerjaanya rapi selalu dihargai oleh guru. Ia menyiapkan sebuah karya tulisan dengan tulisan yang rapi. Kemudian menyerahkannya kepada guru (perbuatan peserta didik yang sebelumnya dikuatkan oelh guru). Guru menerimanya, kemudian mengembalikannya kepada Rezki menjadi kurang rapi dalam membuat makalah berikutnya (frekuensi perbuatan yang sebelumnya dikuatkan menjadi menurun).
Penguatan negative adalah penarikan rangsangan (hukuman), yang tidak diingankan atau tidak disukai sesudah terjadinya suatu perbuatan, yang menyebabkan frekuensi perbuatan itu meningkat. Menarik hukuman bermaksud memperkuat perilaku dan meningkatkan kecenderungan diulangi.
Contoh :
Syam adalah seorang peserta didik yang selalu menyerahkan pekerjaan (makalah) yang kurang rapi kepada gurunya. Meskipun guru selalu mengomeli Syam, pekerjaan Syam itu tidak bertambah rapi guru kali ini menerima pekerjaan Syam tanpa komentar dan tanpa omelan seperti biasanya (menarik hukuman). Ternyata pada kemudian hari pekerjaan Syam menjadi lebih baik (frekuensi perilaku meningkat).
Mendasarkan pada ursian diatas, guru dapat mendorong perilaku peserta didik yang sesuai dengan memperguanakan penguatan positif (memberikan penghargaan) dan penguatan negative (menarik hukuman). Guru dapat mengurangi perilaku peserta didik yang menyimpang dengan mempergunakan hukuman (memberi rangsangan yang tidak menyenangkan), penghentian (menahan penghargaan yang di harapkan), dan penarikan (menarik penghargaan pada peserta didik). Hal yang perlu diingat konsekuensi- konsekuensi itu memberikan pengaruh pada perilaku peserta didik sesuai dengan prinsip-prinsip perilaku yang telah terbentuk. Jika guru menghargai perilaku yang menyimpang, perilaku tersebut cenderung duteruskan. Jiak guru menghukum perilaku yang sesuai, perilaku tersebut cenderung tidak diteruskan.
Penentuan waktu, frekunsi penguatan, dan hukuaman adalah prinsip lain yang penting pada perubahan perilaku. Perbuatan peserta didik yang hendak diperkuat oleh guru harus dengan segera dikuatkan setelah perbautan itu terjadi. Perbuatan peserta didik yang hendak dihentikan harus segera dikenakan hukuman setelah perbauatan itu terjadi. Perilaku yang tidak dikuatkan dengan segera cenderung akan melemah. Perilaku yang tidak dikenakan hukuman dengan segera cenderung akan menguat. Jadi penentuan waktu yang tepat untuk mengahrgai dan menghukum adalah penting.
Penentuan waktu sama pentingnya dengan frekuensi terjadinya perilaku yang dikuatkan. Penguatan yang terus menerus, yaitu penguatan yang menyusul setiap terjadi perilaku menyebabkan makin cepatnya seseorang mempelajari perilaku tersebut. Jika seorang guru menginginkan penguatan perilaku siswa tertentu, guru harus menghargai setiap kali perilaku itu terjadi. Penguatan terus menerus akan sangat efektif pada tahap awal memepelajari suatu perilaku. Sekali perilaku telah terbnetuk akan efektif menguatkannya tanpa tenggang waktu yang lama.
Ada dia macam pendekatan untuk penguatan yang berselang waktu pendek yaitu:
o penjadwalan selang waktu
o penjadwalan rasio
penjadwalan selang waktu ialah pendekatan yang dipergunakan oleh guru mendorong siswa setelah batas waktu tertentu. Misalnya, guru yang menggunakan penjadwalan selang waktu akan mendorong seorang siswa setiap jam.
Penjadwalan rasio adalah pendekatan yang digunakan oleh guru mendorong siswa setelah suatu perbauatn terjadi beberapa kali. Misalnya, guru yang menggunakan penjadwalan rasio akan mendorong siswa setelah perbauatan tetentu terjadi empat kali.
Penghargaan atau pendorong adalah suatu rangsangan untuk meingkatkan frekuensi perbuatan yang mendahuluinya. Hukuman adalah sesuatu yang mengurangi frejuensi perbuatan yang mendahuluinya. Pendorong dapat digolongkan dalam dua kategori utama yaitu:
o Pendorong primer (diperlukan untuk mempertahankan kehidupan seperti air, makanan, rumah).
o Pendorong bersyarat (pujian, rasa kasi saying dan sebagainya).
Pendorong bersyarat terdiri dari beberapa type sepert8i pendorong social (pujian atau tepukan), pendorong perlambang (berupa benda/ barang tanda penghargaan) pendorong nyata (uang atau cek), pendorong kegiatan (bermain diluar, membaca bebas, diberi kesempatan memilih nyanyian).
Penghargaan dan hukuman dapat dipahami hanya dalam kaitannya dengan peserta didik secara individual penghargaan terhadap seorang peserta didik dapat dirasakan sebagai hukuman bagi peserta didik lainnya. Respon yang dimaksudkan oleh guru sebagai penghargaan dapat menjadi penghargaan. Hal semacam ini sering terjadi. Contoh yang sangat lazim sekali apabila seorang peserta didik berperilaku menyimpang dengan maksud menarik perhatian. Tindakan hukuman yang diberikan oleh guru sesudah kejadian itu sesungguhnya adalah menghargai, bukan menghukum peserta didik yang harus perhatian itu. Dan oleh karena itu, peserta didik tersebut meneruskan perilakunya untuk mendapatkn perhatian yang didambakannya.
contoh diatas mengisyaratkan hendaknya guru berhati-hati dalam memilih suatu pendorong tertentu. Walaupun hal ini benar, proses pemilihan jangan dibaut sebagai suatu hal yang menyulitkan. Pendorong adalah indosinkretik bagi seorang peserta didik. Pendidik itulah sebenarnya dan seyogianya menemukan pendorong-pendorong tersebut. Jadi pendorong terbaik ialah pendorong yang dipilih oleh peserta didik itu sendiri.
Terdapat tiga metode yang ditawarkan untuk menemukan pendorong-pendorong yang berorientasi individual yaitu:
o Mendapatkan petunjuk mengenai pendorong yang mungkin dengan mengamati apa yang mungkin dilakukan oleh peserta didik,
o Mendapatkan petunjuk tambahan dengan mengamati apa saja yang mengikuti perilaku peserta didik tertentu,
o Mendapatkan petunjuk tambahan denagn hanya menanyakan si anak, apa yang akan dilakukan pada waktu senggang,apa yang igin dimiliki, dan untuk apa ia melakukan sesuatu.
Guru menyadari bahwa pujian dan dorongan adalah pendorong social yang sangat kuat. Pendekatan perilaku menwarkan sejumlah strategi manajerial kepada guru yang semuanya mengandung penggunaan dorongan.

Berikut ini adalah strategi-strategi lain yang ditawarkan dalam manajemen kelas yaitu:
Mempergunakan model
Model adalah proses dimana peserta didik dengan mengamati cara berperilaku orang lain mendapatkan perilaku yang baru. Sebagai suatu strategi manajemen, model dapat dipandang sebagai suatu proses dimana guru melalui tingkah lakunya menampilkan nilai dan sikap, yang dikehendaki dimilki dan ditampilkan oleh peserta didik.
Mempergunakan pembentukan
Pembentukan adalah suatu prosedur dimana guru memeinta peserta didik menampilkan serangkaian perilaku yang mendekati atau mirip dengan perillaku yang diinginkan. Dan pada setiapkali peserta didik menampilkan perilaku yang mendekati itu guru memeberikan dorongan kepada peserta didik sehingga ia mampu secara konsisten menamp[ilkan perilaku yang diinginkan tersebut. Jadi pembentukan adalah strategi pengubahan perilaku yang dipergunakan untuk mendorong perkembangan perilaku yang baru.

Mempergunakan system hadiah
System hadiah biasanya terdiri dari tiga unsure. Unsure-unsur itu dimaksudkan untuk mengubah perilaku sekelompok peserta didik. Unsure-unsur itu berupa:
1) Seperangkat instruksi tertulis yang disiapkan dengan teliti, yang menggambarkan perilaku peserta didik yang hendak dikuatkan atau didorong oleh guru
2) Suatu system yang direncanakan dengan baik untuk menghadiakan barang kepada peserta didik yang menampilkan perilaku yang sesuai
3) Seperangkat prosedur yang memberikan kesempatan kepada peserta didik saling bertukar hadiah yang mereka peroleh sebagai penghargaan, atau memberikan kesempatan terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial

Mempergunakan kontrak perilaku
Kontrak perilaku adalah suatu persetujuan antara guru dan peserta didik yang berperilaku menyimpang. Persetujuan ini menampilkan perilaku yang disetujui oleh peserta didik untuk ditampilkan dan kemungkinan-kemungkinan koensekuensinya apabila pserta didik menampilkan perilaku tersebut. Kontrak adalah suatu kesepakatan antara guru dan peserta didik yang merinci apa yang diharapkan dilakukan oleh peserta didik dan ganjaran atau konsekuensi yang akan diperolehnya apabila melakukan hal-hal yang disepakati.

Mempergunakan jata kelompok
Penggunaan jata kelompok adalah penggunaan prosedur dimana konsekouensi ( pengutan atau hukuman ), tidak hanya tergantung kepada perilaku seorang peserta didik itu sendiri, melainkan juga pada perilaku kelompoknya. Pengharagaan kepada setiap kelompok tergantung pada perilaku salah seorang atau lebih atau perilaku seluruh anggota kelompok lainnya.

Penggunaan alternative yang tidak serasi
Penggunaan alternative yang tidak serasi adalah penguatan yang bertentangan satu dengan yang lainnya. Penguatan itu terjadi pada situasi dimana guru menghargai perlaku yang tidak dapat terjadi bersama dengan perilaku menyimpang yang hendak dihilangkan oleh guru.

Mempergunakn penyuluhan perilaku
Penyuluhan perilaku adalah suatu proses yang meliputi pertemuan peribadi antara guru dan peserta didik. Penyuluhan perilaku ini dimaksudkan untuk membantu peserta didik yang berperilaku menyyimpang mengetahui bahwa perilaku tidak sesuai dan merencanakan perubahan. Pertemuan seperti itu akan membantu pesrta didikmemahami hubungan antara tindakannya dan konsekoensinya, dan mempertimbangkan tindakan-tindakan alternative yang mungkin dapat menghasilkan konsekoensi yang diinginkan.

Mempergunakan pemantaun sendiri
Pemantaun diri sendiri diartikan sebagai pengelolaan diri sendiri dimana peserta didik mancatat spek-aspek perilaku agar dia dapat merubahnya. Pemamtauan diri sendiri secara sistematis akan meningkatkan kesadaran peserta didik terhadap perilaku dan diharapkan dihilangkan atau dikurangi. Pemantauan diri sendiri melalui pengamatan atas dirinya.

Mempergunakan isyarat
Bisyarat adalah suatu proses untuk merangsang berbuat atau tindakan mengingatkan secara verbal atau nonberbal yang digunakan guru kepada peserta didiknya.hal ini dilakukan apabila ia merasa pseserta didiknya berperilaku menyimpang. Suatu isyarat dapat digunakan untuk mendorong atau mencegah perilaku tertentu.berlainan dengan pendorong isyarat yang mendahului respons.
Kembali pada dilemma paling pelik yang dihadapi oleh para penganjur pendekatan pengubahan perilaku yaitu peggunaan hukuman untuk menghilangkan perilaku yang tidak sesuai. Setiap penulis mempunyai pandangan yang berbeda.
Ada tiga pandangan pokok yang paling menonjaol dalam hal ini yaitu:
1) Penggunaan hukuman dengan tepat sangat efektif untuk menghilangkan perilaku peserta didik yang menyimpang,
2) Penggunaan hukuman dengan bijaksana pada jenis-jenis sesuatu tertentu akan dapat memberikan dampak positif pada perilaku peserta didik, tetapi karena adanya resiko timbulnya pengaruh sampingan yang negative, penggunaan hukuman harus dipantau dengan seksama,
3) Penggunaan hukuman harus dihindarkan sama sekali, karena perilaku siswa yang menyimpang dapat ditangani secara efektif dengan teknik-teknik lain yang tidak mempunyai pengaruh sampingan yang negative seperti hukuman.
Menyoal pandangan ynag berbeda tentang hukuman yang di atas, Sulzer dan Mayer memberikan kajian keuntungan dan kerugian penggunaan hukuman,
Keuntungan pemberian hukuman adalah:
1) Hukuman tidak menghentingkan dengan segera perilaku perilkaku siswa yang dihukum, tetapi dapat mengurangi terjadinya perilaku tersebut untuk jangka waktu lama,
2) Hukuman bersifat memberikan informasi kepada peserta didik, karena mebantunya membedakan dengan cepat perilaku yang dibenarkan dan perilaku yang tidak dibenarkan,
3) Hukuman bersifat memerintah terhadap siswa lain untuk mengurangi kemungkinan peserta didik lainnya meniru perilaku yang dihukum tersebut.

Adapun kerugian penggunaan hukuman adalah:
1) Hukuman dapat disalah tafsirkan,
2) Hukuman dapat menyebabkan peserta didik yang dihukum menyisihkahkan diri sama sekali
3) Hukuman dapat menyebabkan peserta didik yang dihukum menjadi agresif
4) Hukuman dapat menghasilkan reaksi negative dipihak teman-teman sekelasnya
5) Hukuman dapat menyebabkan peserta didik yang dihukum bersikap negative terhadap dirinya sendiri atau terhadap situasi.
7. Pendekatan iklim sosio-emosional
Pendekatan iklim sosio-emosional dalam manajemen kelas berakar pada psikologi penyuluhan klinik, dan arena itu memberikan arti yang sangat penting pada hubungan antar peribadi. Pendekatan ini dibangun atas dasar asumsi bahwa manajemen kelas yang efektif (dan pengajaran yang efektif) sangat tergantung pada hubungan yang positif antara dan iklim kelas. Oleh karena itu, tugas pokok guru dalam manajemen kelas adalah membangun hubungan antar peribadi yang positif dan meningkatkan iklim sosio-emosional yang positif pula.
Banyak gagasan yang bercirikan pendekatan sosio-emosional dapat ditelusuri pada karya Carl Rogers. Premis utamanya adalah: kelancaran proses belajar yang penting sangat tergantung pada kualitas sikap yang terdapat dalam hubungan perilaku antara guru dan peserta didik. Rogers mengindentifikasi beberapa sikap yang diyakini hakiki yaitu: ketulusan, keserasian, sikap menerima, menghargai, menaruh perhatian, mempercayai dan pengertian empatik.
Semester itu, Ginott menekan pentingnya komunikasi yang efektif untuk meningkatakan hubungan yang baik antara guru dan siswa, disamping keserasian, sikap menerima, empati dan memberikan sejumlah contoh bagaimana sikap-sikap itu diwujudkan oleh guru. Cara guru berkomunikasi ialah dengan berbicara sesuai situasi, bukan dengan kepribadian atau watak siswa. Apabila dihadapkan kepada perilaku siswa yang tidak dikehendaki, guru dinasehatkan agar menerangkan apa yang dilihatnya, menjelaskan apa yang dirasakannya, dan menerangkan apa yang perlu dilakukan. Guru menerima siswa, tetapi tidak menerima apa yang atau menyetujui perilakunya.
Ginott memberikan rekomendasi mengenai cara yang seyognya dilakukan oleh guru untuk berkomunikasi secara efektif sebagai berikut.
a. Alamatkan pernyataan kepada situasi siswa, jangan menilai dirinya Karena hal itu dapat merendahkan diri siswa.
b. Gambarkanlah situasi, ungkapkan perasaan tentang situasi itu, dan jelaskan harapan mengenai situasi tersebut.
c. Nyatakan perasaan yang sebenarnya yang akan meningkatkan pengertian siswa.
d. Hindarkan cara memusuhi dengan cara mengundang kerja sama dan memberikan kepada siswa kesempatan mengalami ketidak tergantungan.
e. Hindarkan sikap menentang atau melawan dengan cara menghindarkan perintah dan tuntutan yang memancing respons defenisif.
f. Akui, terima, dan hormati pendapat serta perasaan siswa dengan cara yang meningkatkan perasaan harga dirinya.
g. Hindarkan diagnosis dan prognosis yang akan menilai siswa, karena hal itu akan melemahkan semangat.
h. Jelaskan proses, dan tidak menilai produk atau pribadi, berikan bimbingan dan bukan kecaman.
i. Hindarkan pertanyaan dan komentar yang memungkinkan memancing sikap menolak dan mengundang sikap menentang.
j. Tolak godaan memberikan kepada siswa pemecahan yang ditawarkan secara buru-buru, pergunakan waktu untuk memberikan bimbingan yang diperlukan oleh siswa untuk memecahkan masalahnya. Doronglah kemampuan untuk mengatur diri sendiri.
k. Hilangkan sarkasme, karena hal itu akan mengurangi harga diri peserta didik.
l. Usahakan penjelasan yang singkat, hindarkan khotbah bertele-tele yang tidak akan menyakiti motivasi.
m. Pantau dan waspadalah terhadap dampak kata-kata yang disampaikan kepada siswa.
n. Berikan pujian yang bersifat menghargai, karena hal itu produktif, tetapi hindarkan pujian yang bersifat menilai karena hal itu destruktif.
o. Dengarkanlah apa yang diungkapkan peserta didik dan dorong mengungkapkan buah pikiran dan perasaannya.

Pandangan lain yang dapat digolongkan sebagai pendekatan sosio-emosional adalah dari Glasser. Glasser menekankan pentingnya keterlibatan guru dengan menggunakan strategi manajemen yang disebutnya terapi kenyataan. Dinyatakan oleh Glasser bahwa satu-satunya kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan akan identitasyaitu perasaan berhasildan dihargai. Untuk encapai identitas berhasil dalam konteks dalam konteks sekolah, seseorang harus mengembangkan perasaan tanggung jawab sosial dan harga diri. Tanggung jawab sosial dan harga diri adalah hasil yang diperoleh siswa yang telah mengembangkan hubungan yang baik dengan sesamanya. Jadi untuk mengembangkan identitas kebersihan yang penting adalah keterlibatan. Perilaku siswa yang menyimpang adalah buah kegagalannya mengembangkan identitas kebersihan.
Dalam kaitan ini, Glasser mengemukakan delapan langkah untuk membantu peserta didik mengubah perilakunya adalah sebagai berikut :
a. Secara peribadi melibatkan diri dengan siswa, menerima siswa tetapi bukan kepada perilakunya yang menyimpang, menunjukkan kesediaan membantu siswa memecahkan masalah.
b. Memberikan uraian tentang perilaku siswa, menangani masalah tetapi tidak menilai atau menghakimi siswa.
c. Membantu siswa membuat penilaian atau pendapat tentang perilakunya yang menjadi masalah itu. Pusatkan perhatian kepada apa yang dilakukan oleh siswa yang menimbulkan masalah dan yang menyebabkan kegagalannya.
d. Membantu siswa merencanakan tindakan yang lebih baik, jika perlu berikan alternative-alternatif, bantulah siswa membuat keputusan sendiri berdasarkan penilaianya atas alternative-alternatif yang ada untuk mengembangkan perasaan tanggung jawab diri sendiri.
e. Membimbing siswa mengingatkan diri dengan rencana yang telah dibuatnya.
f. Mendorong siswa sewaktu melaksanakan rencananya dan memelihara keterkaitannya dengan rencana tersebut,yakinkan siswa bahwa guru mengetahui kemajuan-kemajuan yang dibuatnya.
g. Tidak menerima pernyataan maaf siswa apabila siswa gagal meneruskan keterkaitannya, bantulah ia memahami bahwa iasendirilah yang bertanggung jawab atas perilakunya,ingatkan siswa akan perlunya rencana yang lebih baik, menerima pernyataan maaf berarti tidak memusingkan masalah siswa.
h. Memberikan kesempatan kepada siswa merasakan akibat wajar dari perilakunya yang menyimpang tetapi jangan menghukumnya, bantulah siswa mencoba lagi menyusun rencana yang lebih baik dan mengingatkan diri dengan rencana tersebut.

Sementara itu Dreikurs dalam kaitan dengan pendekatan sosio-emosional mengemukakan gagasan-gagasan penting yang mempunyai implikasi bagi manajemen kelas yang efektif.
Dua diantaranya ialah :
o Penekanan pada kelas yang demokratis dimana siswa dan guru berbagi tanggung jawab, baik dalam proses maupun dalam langkah maju.
o Pengakuan akan pengaruh konsekoensi wajar dan logis atas perilaku siswa.

Mengembangkan kelas yang demokratis berasumsi bahwa perilaku dan pencapaian siswa dipermudah oleh suasana kelas yang demokratis pula. Dalam suasana kelas yang demokratis siswa diharapkan diperlakukan sebagai orang yang bertanggung jawab, individu yang mempunyai harga diri,yang mampu membuat keputusan dan memecahkan persoalan dengan terampil. Kelas yang demokratis, dapat membantu mengembangkan suasana saling mempercayai antara guru dan siswa dan antara sesama siswa. Guru yang berusaha menciptakan suasana yang demokratis tidak boleh melepaskan tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Guru yang efektif bukanlah seorang otokratis, tetapi juga bukan anarkis. Guru yang demokratis membimbing peserta didik; guru yang otokratis mendominasi; guru yang laissez-faire lepas tanggung jawab. Guru yang demokrtis bertanggung jawab dengan membagi tanggung jawab.
Menggunakan konsekuensi logis adalah akibat yang diterima dari sebab perilaku peserta didik itu sendiri. Konsekuensi logis sedikit banyak diatur oleh guru, tetapi merupakan akibat logis dari perilaku peserta didik. Agar dapat dipandang sebagai Konsekuensi logis, siswa harus menganggap konsekuensi itu sebagai sesuatu yang wajar. Jika dipandang sebagai hukuman, efek positifnya akan hilang. Konsekuensi logis sebagai realitas tertib sosial, berkaitan langsung dengan perilaku yang menyimpang, tidak termaksud unsur pertimbangan moral, dan hanya menyangkut apa yang akan terjadi dikemudian hari.

8. Pendekatan proses kelompok
Premis utama yang mendasari pendekatan proses kelompok didasarkan pada asumsi-asumsi berikut:
1) Kehidupan sekolah berlangsung dalam lingkungan kelompok, yakni kelompok kelas
2) Tugas pokok guru adalah menciptkan dan membina kelompok kelas yang efektif dan produktif
3) Kelompok kelas adalah suatu system sosial yang mengandung cirri-ciri yang terdapat pada semua system sosial
4) Pengelolaan kelas oleh guru adalah menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang menunjang terciptanya suasana kelas yang menguntungkan

Schmuk dan Weber mengemukakan enam ciri mengenai manajeman kelas yaitu: harapan, kepemimpinan, daya tarik, norma, komunikasi dan keterpaduan.
Harapan adalah persepsi yang dimilki oleh guru dan siswa mengenai hubungan mereka satu sama lain. Persepsi tersebut adalah perkiraan individual tentang cara berperilaku diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, harapan yang bagaimana anggota kelompok akan berperilaku akan sangat mempengaruhi cara guru dan siswa dalam hubungan mereka satu dengan yang lainnya.
Kepemimpinan paling tepat diartikan sebagai perilaku yang membantu kelompok bergerak menuju pencapaian tujuannya. Jadi perilaku kepemimpinan terdiri dari tindakan-tindakan anggota-anggota kelompok, termaksud didalamnya tindakan-tindakan yang membantu penetapan norma-norma kelompok yang menggerakkan kelompok kearah tujuan, yang memperbaiki mutu interaksi antara anggota-anggota kelompok, dan menciptakan keterpaduan kelompok. Berdasar peranannya, guru mempunyai potensi terbesar dalam perana kepemimpinan. Akan tetapi dalam kelompok kelas yang efektif fungsi kepemimpinan dilaksanakan bersama-sama oleh guru dan peserta didik. Suatu kelompok kelas yang efektif adalah kelompok yang fungsi kepemimpinannya dibagi-bagi dengan baik, dan semua anggota kelompok dapat merasakan kewenangan dan harga diri dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik dan dalam bekerja bersama-sama.
Daya tarik, mennunjuk pada pola–pola persahabatan dalam kelas. Daya tarik dapat digambarakan sebagai tingkat persahabatan yang terdapat diantara para anggota kelompok kelas. Tingkat daya tarik tergantung pada sejauh mana hubungan antara pribadi yang positif telah berkembang. Pengelola kelas yang efektif adalah seseorang yang membantu mengembangkan hubungan antar pribada yang positif antara para anggota kelompok. Misalnya guru berusaha mengikatkan sikap menerima terhadap para siswa yang tidak disukai dan anggota-anggota baru.
Norma ialah pengharapan bersama mengenai cara berfikir, cara berperasaan dan cara berperilaku para anggota kelompok. Norma sangat mempengaruhi hubungan antar pribadi karena noma tersebut memberikan pedoman yang membantu para anggota memahami apa yang diharapkan dari mereka dan apa yang dapat mereka harapkan dari orang lain. Norma kelompok yang produktif adalah hakiki bagi efektifitas kelompok. Oleh karena itu, salah satu tugas guru ialah membantu kelompok menciptakan, menerima dan memelihara norma kelompok yang produktif.
Komunikasi, baik verbal maupun nonverbaladalah dialog antara anggota-anggota kelompok. Komunikasi mencakup kemampuan khas manusia untuk saling memahami buah pikirandan perasaan masing-masing. Komunikasi yang efektif berarti menerima pesan menafsirkan dengan tepat pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan. Oleh karena itu, tugas rangkap guru adalah membuka saluran komunikasi sehingga semua siswa menyatakan buah piiran dan perasaannya dengan bebas, menerima buah pikiran dan perasaan.
Keterpaduan adalah menyangkut perasaan kolektif yang dimiliki oleh para anggota kelas mengenai kelompok kelasnya. Keterpaduan menekankan hubungan individu dengan kelompok sebagai suatu keseluruhan. Kelompok menjadi padu karena alasan:
o Para anggota saling menyukai satu sama lainnya,
o Minat yang besar terhadap pekerjaan,
o Kelompok memberikan harga diri kepada para anggotanya.

9. Pendekatan eklektik
Menyimak secara seksama kedelapan pendekatan yang telah diuraikan dimuka adalah ibarat melihat benda yang sama dari berbagi sudut pandang yang berbeda. Oleh karena itu, seorang guru harus mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing pendekatan ketika akan menerapkan satu pendekatan. Dalam kenyataan guru jarang sekali menerapkan satu pendekatan secarah utuh, melainkan mengkombinasikan masing-masingpendekatan dengan mengambil hal-hal yang positif dari satu pendekatan secara mengeliminir kelamahan masing-masing pendekatan. Wiford A Weber menyatakan bahwa pendekatan dengan cara menggabungkan semua aspek terbaik dari berbagi pendekatan manajemen kelas untuk menciptakan suatu kebulatan atau keseluruhan yang bermakna, yang secara filosifis, teoritis dan/atau psikologis dinilai benar, yang bagi guru merupakan sumber pemilihan perilaku pengelolaan tertentu yang sesuai dengan situasi disebut pendekatan elektik (Wilford A.Weber, 1986).
Dua syarat yang perlu dikuasai oleh guru dalam menerapkan pendekatan elektik yaitu:
1) Menguasai pendekatan-pendekatan manajemen kelas yang potensial, seperti pendekatan pengubahan perilaku, penciptaan iklim sosio-emosional, proses kelompok,
2) Dapat memilih pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur yang sesuai dengan baik dalam masalah manajemen kelas (M. Entang dan T. Raka Joni, 1983:43).
Simpulannya adalah bahwa kemampuan guru memilih strategis manajemen manajemen kelas yang tepat sangat tergantung pada kemampuannya menganalisis masalah manajemen kelas yang dihadapinya. Pendekatan perubahan tingkah laku dipilih, misalnya bila tujuan tindakan manajemen kelas yang akan dilakukan adalah menguatkan tingkah laku peserta didik yang baik dan/atau menghilangkan perilaku peserta didik yang kurang baik.
Pendekatan iklim sosio-emosional dipergunakan apabila sasaran tindakan manajemen kelas adalah peningkatan hubungan antar pribadi guru peserta didik . Sementara itu pendekatan proses kelompok dianut bila seorang guru igin kelompoknya melakukan kegiatan secara produktif.

10. Pendekatan Analistik Pluralistik
Sembilan pendekatan yang diuraikan di muka menggambarkan semua macam pendekatan manajemen kelas yang berlainan. Setiap pendekatan penganjurnya dan pemakaiannya. Tidak ada anjuran dan saran untuk mendapat dan menggantungkan diri pada satu pendekatan manajemen kelas. Saran anjuran yang perlu dipertimbangkan adalah menggunakan pendekatan atau pluralistik.
Berbeda dengan pendekatan eklektik, pendekatan analistik pluralistik memberi kesempatan kepada guru memilih strategi manajemen kelas gabungan beberapa stategi dari berbagai pendekatan manajemen yang dianggap mempunyai potensi terbesar berhasil menanggulangi masalah manajemen kelas dalam situasi yang dianalisis guru yang bijaksanamenghargai pendekatan dan strategis manajemen kelas yang baik. Dengan demikian, pendekatan analitik berupa pemilihan diantara berbagai strategi manajemen kelas suatu atau beberapa strategi yang mempunyai kemungkinan menciptakan dan menampung kondisi-kondisiyang member kemudahan kepada pembelajaran yang efektif dan efesien.
Pendekatan analistik pluralistic tidak mengingat guru pada serangkaian strategi manajerial tertentu saja. Guru bebas mempertimbangkan semua strategi yang mungkin efektif. Terdapat empat tahap pendekatan analistik pluralistic yang perlu dicermati dalam penggunaannya.

a. Menentukan kondisi kelas yang diinginkan
Langkah pertama dalam proses memanajemeni kelas yang efektif ialah menentukan kondisi kelas yang ideal. Guru perlu mengetahui dengan jelas dan mendalam tentang kondisi-kondisi yang menurut penilaiannya akan memungkinkan mengajar secara efektif. Disamping itu guru hendaknya menyadari perlunya terus menerus menilai manfaat pemahamannya dan mengubahnya apabila keadaan menuntutnya.
Keuntungan utama terciptanya kondisi kelas yang diyakini guru sesuai adalah:
1) Guru tidak memandang kelas semata-mata hanya sebagai reaksi atas maslah yang timbul,
2) Guru akan memiliki seperangkat tujuan yang mengarahkan upayanya dan yang menjadi tolak ukur penilaian atas hasil upayanya.
b. Mengalisis kondisi kelas yang nyata
Setelah menentukan kondisi kelas yang diinginkan, guru selanjutnya menganalisis keadaan yang ada, yakni membandingkan keadaan yang nyata dengan keadaan yang diharapkan.
Dengan demikian, analisis ini akan memungkinkan guru mengetahui:
1) Kesenjangan antara kondisi sekarang dan yang diharapkan,kemudian menentukan kondisi yang perlu mendapat perhatian segera dan nama yang dapat diselesaikan kemudian, dan kondisi mana yang memerlukan pemantauan,
2) Masalah yang mungkin terjadi yakni kesenjangan yang mungkin timbul jika guru gagal mengambil tindakan pencegahan ,
3) Kondisi sekarang yang perlu dipelihara dan dipertahankan karena dianggap sudah baik.
Asuransi tahap kedua dan analitik pluralistic ini adalah bahwa guru yang efektif adalah terampil menganalisis interaksi kelas dan peka terhadap apa yang sedang terjadi di kelasnya.
c. Memilih dan menggunakan strategi pengelolaan
Guru yang efektif adalah guru yang menguasai berbagai strategi manajerial yang terkandung di dalam berbagai manajemen kelas, dan mampu memilih serta menggunakan strategi yang paling sesuai dalam situasi tertentu yang telah dianalisis sebelumnya. Proses pemilihan ini dapat dianggap sebagai suatu kerja computer, guru memeriksa strategi yang tersimpan dalam sel-sel computer dan memilih strategi yang memberikan harapan untuk meningkatkan kondisi yang dianggap sesuai.
d. Menilai efektivitas pengelolaan
Dalam tahapan guru menilai efektivitas dalam pengelolaannya. Artinya dari waktu ke waktu guru harus menilai sejauh mana keberhasilan menciptakan dan memelihara kondisi yang sesuai, proses penilaian ini memusatkan perhatian kepada dua perangkat perilaku. Perilaku pertama adalah perilaku guru, dalam arti sejauh mana guru telah menggunakan perilaku manajemen yang direncanakan akan dilakukan. Perilaku kedua adalah perilaku peserta didik, yaitu sejauh mana peserta didik berperilaku yang sesuai, yakni apakah mereka telah melakukan apa-apa yang diharapkan untuk dilakukan.





2 komentar:

FKIP_bolandcapzlock mengatakan...

wew

Desi Ariyantie mengatakan...

artikel ini sangat bermanfaat bagi saya, cukup lengkap tetapi akan lebih bagus jika diberikan contoh-contoh konkrit mengenai penerapan-penerapannya penguatan-penguatan pada pendekatan perubahan prilaku,,,

:10 :11 :12 :13 :14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21 :22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29 :30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37 :38 :39

Poskan Komentar

Prev Prev home

aku berada didalam kejahatan yg tak punya malu.. ingin merasakan rasanya sensasi yg baru.. godaan yg membuatku senang..


dilarang merokok,,blog ini ber~AC...!!!
boland capzlock
Diberdayakan oleh Blogger.
RUANG MANAJEMEN SUDUT PANDANG © design Template 2011 by:
boland capzlock
blogwalking.. Selamat datang di blog saya.