Selasa, 08 Maret 2011

BAYANGAN YANG MENJADI KENYATAAN

Dua tahun yang lalu, anak pertama saya sangat cemburu bila melihat teman-teman sebayanya (bahkan yang lebih muda darinya) bisa lalu lalang naik sepeda roda dua. Untuk ukuran anak kelas 2 SD (berusia hampir 8 tahun) memang agak terlambat kalau belum bisa naik sepeda roda dua dengan lancar. Sudah sering dia mencoba sendiri maupun dengan diajari oleh ibunya, namun kelihatannya sulit baginya untuk mencapai keseimbangan. Sehingga kalau mencoba sendiri, pada kayuhan pertama posisi sepedanya sudah miring dan kemudian terjatuh. Begitu juga saat sambil dipegangi oleh ibunya, kelihatannya sudah seimbang, tapi begitu ibunya melepaskan pegangannya dari sepeda, langsung oleng dan jatuh. Lama-lama dia jadi malas, bahkan mungkin takut untuk mencoba lagi, karena merasa selalu gagal.
Sebenarnya keinginannya untuk bisa naik sepeda roda dua cukup besar. Tiap hari dia haru pergi mengaji yang jaraknya sekitar 400-500 meter dari rumah. Karena tidak bisa naik sepeda sendiri, akibatnya dia harus dibonceng oleh temannya, meskipun naik sepedanya sendiri. Dia jadi tergantung pada temannya untuk berangkat mengaji. Kalau temannya kebetulan tidak pergi mengaji, dia pun harus tidak pergi juga. Keinginannya untuk bisa pergi sendiri, saat itu, masih belum cukup untuk mengalahkan perasaan takut mencoba belajar naik sepeda lagi, karena merasa selalu gagal.
Suatu kali saya merencanakan untuk mengajaknya belajar naik sepeda lagi. Tapi kali ini tidak di jalan depan rumah seperti biasa, melainkan di lapangan Gelanggang Olah Raga. Sehari sebelumnya saya dia saya tanya,”Kamu masih ingin bisa naik sepeda?” Dengan cepat dijawabnya,”Pasti! Aku ingin bisa pergi mengaji sendiri dengan naik sepeda!”
Saya teruskan,”Kalau begitu besok sore kita belajar sepeda di GOR.” Sekejap bola matanya bergerak ke kanan atas. Saya tahu, dia sedang membayangkan berada di GOR sedang belajar naik sepeda!”
Saya lanjutkan untuk memanfaatkan emosinya yang sedang naik untuk memprogram pikirannya dengan visualisasi. ”Besok sore kita belajar naik sepeda di GOR sebelah Timur, dekat lintasan sepatu roda. Di sana tempatnya luas dan jalannya rata. Enak untuk naik sepeda keliling-keliling.” Saya diam sebentar, saya biarkan dia membuat visualisasi sendiri tentang apa yang akan dilakukannya besok. Saya yakin dia sedang membayangkan besok sore dia sedang bersepeda keliling-keliling GOR.
Minggu pagi, kelihatannya dia tidak sabar menunggu sampai sore di GOR. Keinginannya untuk segera bersepeda terlalu menggebu-gebu. Dia mencoba di jalan di depan rumah. Saya biarkan dia mencoba dengan caranya sendiri didampingi ibunya. Hasilnya? Tetap saja berkali-kali oleng dan terjatuh, sampai akhirnya berhenti mencoba karena sudah cukup banyak lecet di kaki.
Sore harinya saya ajak dia ke GOR seperti yang direncanakan kemarin. Waktu akan mulai dia saya tanya,”Kemarin kamu bayangkan kita belajar sepeda di mana?” Saya minta dia menunjukkan tempat yang persis dengan yang ada dalam visualisasinya.
“Sekarang kita mulai dari sini”
”Lihat kembali apa yang kamu lihat kemarin waktu kita rencanakan mau bersepeda di sini”
”Lihat kanan kirimu, persis sama kan dengan yang kemarin?”
”Suara mobil yang lalu lalang di jalan raya juga sama kan?”
”Sekarang duduk di sepedamu. Bagaimana? Rasanya sama kan dengan yang kamu bayangkan kemarin? Tempat duduknya? Pegangan kemudinya?
Dia hanya mengangguk-angguk karena pandangannya lurus ke depan. Seakan tidak sabar untuk segera membawa sepedanya ke satu titik yang sudah dilihatnya dari tadi.
”Sekarang rasakan bagaimana rasanya bisa naik sepeda! Persis seperti yang kamu bayangkan kemarin. Seneng kan?”
”Mari kita mulai. Lihat seperti yang kemarin dilihat. Dengarkan seperti yang kemarin terdengar. Rasakan seperti dalam bayangan kemarin. Bagaimana rasanya duduk, rasanya memegang kemudi, rasanya tertiup angin, rasa senang karena bisa bergerak seimbang.... terus rasakan...”
”Sekarang mulai kayuh pedalnya, tetap lihat lurus ke depan”
Dia mulai mengayuh sepedanya pelan-pelan sambil saya pegangi bagian belakang tempat duduknya. Mula-mula perlahan, masih agak goyang-goyang. Makin lama makin cepat, sehingga saya harus berlari-lari kecil di samping belakangnya. Ketika saya yakin dia sudah seimbang, pelan-pelan saya lepaskan pegangan saya, saya berhenti di tempat, sambil agak terengah-engah karena habis berlari-lari kecil cukup jauh. Dan tampaknya dia tidak menyadari kalau pegangan saya sudah saya lepaskan. Dia tetap stabil dengan sepedanya, tidak terlalu pelan, tidak terlalu kencang. Kelihatannya dia menikmati dengan melihat, mendengar dan merasakan seperti apa yang dia bayangkan kemarin tentang bagaimana dia bisa bersepeda.
Sampai akhirnya di ujung lintasan di terpaksa harus berhenti dan menurunkan kakinya. Barulah dia menyadari kalau saya sudah tertinggal jauh di belakangnya. Saya teriaki dia untuk memutar sepedanya. Dia turun sesaat untuk memutar sepedanya. Kemudian mencoba sendiri menuju ke arah saya. Mula-mula agak goyang, oleng, tapi pandangannya tetap ke arah saya, sampai akhirnya mulai seimbang dan sampai ke tempat saya berdiri tanpa terjatuh dan tanpa menurunkan kaki.
Luar biasa! Saya sendiripun kaget! Saya memang optimis dia sore ini harus bisa. Namun tidak secepat ini! Kurang dari 10 menit! Kemudian saya biarkan dia mencoba-coba sendiri. Kepercayaan dirinya sudah begitu tinggi. Emosi positifnya memuncak. Semangatnya untuk menikmati kemampuannya bersepeda sangat besar. Setelah merasa bisa bersepeda lurus, dia mencoba berbelok, memutar arah, mengerem, berjalan lagi, terus berulang-ulang sampai menjelang Maghrib kelihatannya dia sudah sangat lancar bersepeda. Malamnya dia masih ingin bersepeda lagi, karena gembiranya sudah bisa bersepeda. Dia coba di jalan di depan rumah dimana dia selalu terjatuh dan lecet-pecet. Ternyata tidak ada masalah. Dia tetap bisa bersepeda dengan seimbang dan menikmatinya berputar-putar arah.
Dalam istilah Mind to Muscle. Dari sesuatu yang kita pikirkan bisa turun ke anggota tubuh yang lain, sehingga kita bisa melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang kita yakini dalam pikiran kita. Menggunakan Visualisasi dengan melibatkan semua indera akan sangat membantu kita untuk bisa melakukan sesuatu yang kita yakini pasti bisa kita lakukan. Kita lihat, kita dengar, kita rasakan semua situasi dimana kita menikmati sesuatu yang kita ingin lakukan, maka Insya Allah, dengan keyakinan yang kuat kita akan dapat lakukan seperti yang kita ingin lakukan. Semakin nyata kita membayangkan keberhasilan yang kita inginkan, maka semakin besar kemungkinan mencapai keberhasilan itu.

download__Banyangan Yg Menjadi Kenyataan.doc

0 komentar:

:10 :11 :12 :13 :14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21 :22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29 :30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37 :38 :39

Poskan Komentar

Prev Prev home

aku berada didalam kejahatan yg tak punya malu.. ingin merasakan rasanya sensasi yg baru.. godaan yg membuatku senang..


dilarang merokok,,blog ini ber~AC...!!!
boland capzlock
Diberdayakan oleh Blogger.
RUANG MANAJEMEN SUDUT PANDANG © design Template 2011 by:
boland capzlock
blogwalking.. Selamat datang di blog saya.